Previous Entry Share Next Entry
[Fanfiction] It's Not an Act (Indonesian Language)
yaotomeshinju
tumblr_m0h0ikixTI1r2wsfoo10_400

“It’s Not an Act”

Author : Yaotome Shinju

Tittle : It’s Not an Act

Genre : Romance (maybe?)

Rating : PG

Main Cast: Kashiwagi Miku (OC), Kikuchi Fuma, dan karakter numpang lewat lainnya xD.

Disclaimer: Fuma milik Penciptanya, Orangtuanya dan JE. Shinju cuma punya plot cerita sama OC ajah :3.

“Senpai, aku bisa minta tolong?” tanya seorang pemuda.

“Minta tolong apa Kikuchi-kun?” jawab orang yang ditanya oleh pemuda tadi, seorang gadis.

“Jadilah pacarku.” katanya.

“APAAA???”

“Senpai, tenang. Hanya pura-pura.” jelas pemuda itu.

“Pura-pura? Kenapa?”

“Kau tau gadis-gadis yang suka menggangguku kan?” tanya pemuda itu membuat sang gadis mengangguk. “Aku hanya ingin membuat mereka menjauh.” lanjutnya.

“Oh.. baiklah kalau begitu.” jawab sang gadis.

“Arigatou senpai.”

Setelah berkata begitu, pemuda itu pergi meninggalkan sang gadis sendirian. Kikuchi Fuma, adalah nama pemuda itu. Pemuda tampan dan kaya, orang tuanya adalah pemilik sebuah perusahaan yang besar dan terkenal, sifatnya juga sangat cool, tak heran banyak gadis yang menyukainya. Sedangkan, gadis yang ia mintai tolong tadi adalah Kashiwagi Miku. Ia adalah senior dari Fuma -walau usia mereka hanya terpaut beberapa bulan- ia adalah gadis yang manis. Namun, sifatnya yang pendiam membuat banyak sekali orang yang segan untuk mendekatinya. Walau begitu ia sangat baik, dan jika ada seseorang yang meminta pertolongan padanya, ia tidak mampu untuk menolaknya. Sama seperti kasus dengan Fuma kali ini.

Miku memperhatikan Fuma yang bergerak menjauh. “Fuuuu~, kenapa aku mau ya? Aku pasti kena masalah nanti.” kata Miku kepada dirinya sendiri.

-o0o-

Miku sedang berjalan keluar dari kelas, hendak pulang. Namun, tiba-tiba ada yang menarik pinggangnya dari belakang saat di belokan koridor sekolah. Miku menoleh dan mendapati bahwa Fuma-lah yang menariknya.

“K-kikuchi-kun?” kata Miku terkejut.

“Fuuuuuma.” ralatnya, “Kau harus mulai terbiasa memanggilku begitu Miku-chan.” katanya masih dengan tangan yang terlingkar di pinggang Miku.

“M-miku-chan?” tanya Miku, wajahnya sedikit merona saat Fuma memanggil namanya.

“Ya, kita harus terbiasa memanggil nama masing-masing. Kita sudah pacaran.”

“Tap-tapi-“

“Hanya pura-pura? Aku tahu, tapi kita harus berakting di depan yang lain kan. Jadi kau harus terbiasa memanggilku begitu senpai.”

“A-aku mengerti. Sekarang lepaskan aku.” kata Miku sedikit gugup. Fuma melepaskan pelukannya, dan mulai berjalan.

“Ayo.” katanya, ia berbalik dan mengulurkan tangannya kepada Miku. Miku hanya menatap tangan Fuma dengan bingung. “Ayo pegang tanganku, kita ke gerbang bersama.”

Ragu-ragu Miku meraih tangan Fuma dan kemudian Fuma menariknya sehingga mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan menuju gerbang sekolah. Sepanjang jalan, banyak orang yang mulai berbisik-bisik melihat mereka berdua. Terutama gadis-gadis yang tampaknya adalah fans Fuma, mereka menatap Miku dengan tatapan sinis.

Melihat tatapan gadis-gadis itu, Fuma merangkul pundak Miku dan menariknya mendekat. “Fuma-kun!” desis Miku.

“Ssst.. ingat kan, kita harus bersikap selayaknya sepasang kekasih di depan mereka semua. Terutama di depan mereka.” Fuma memberi isyarat ke arah gadis-gadis yang menatap sinis Miku itu.

Miku menghela nafas, “Kau lihat mereka? Mereka seakan mau membunuhku. Kau harus memberiku imbalan untuk hal ini.” katanya.

Fuma menaikkan sebelah alisnya, “Kau mau apa memangnya? Aku akan memberikan apa saja yang kau mau.”

Miku tercengang mendengar perkataan Fuma, “Dasar anak orang kaya! Akan kupikirkan, saat ini aku belum tahu apa yang aku mau.” Kata Miku, Fuma hanya mengangkat bahunya tidak peduli dan kemudian mempererat rangkulannya di pundak Miku.

Begitu sampai di depan gerbang, Miku melepaskan diri dari rangkulan Fuma. “Sampai jumpa besok.” Katanya sambil tersenyum manis, melancarkan aksi sandiwara mereka.

“Kau tidak mau pulang bersamaku?” tanya Fuma lembut sambil membelai pipi Miku, Miku sedikit terkejut, namun tentu saja ia tahu ini bagian dari akting.

“Aku rasa tidak Fuma-kun, sampai jumpa.” jawabnya. Saat ia hendak berbalik, tiba-tiba Fuma menarik pergelangan tangannya dan mendaratkan ciuman singkat di keningnya.

“Jaa ne,” kata Fuma sebelum ia masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan gerbang.

Miku merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, “Apa ini?” pikirnya.” Inikan hanya sandiwara. Tapi kenapa aku malah berdebar-debar?” katanya dalam hati sambil menatap mobil Fuma yang sekarang melaju meninggalkan sekolah.

-o0o-

Sejak saat itu, selama berada di sekolah Miku selalu bersama dengan Fuma. Di kantin, perpustakaan, menemani Fuma di kelasnya, atau Fuma yang ke kelas Miku. Intinya, dimana ada Fuma di situ ada Miku, ia menjalankan perannya dengan sangat baik. Sekarang, ia sedang berada di atas atap sekolah –dengan Fuma tentu saja. Miku sedang duduk, sedangkan Fuma, ia tidur di pangkuan Miku. Miku merasa aneh dengan keadaan ini. Lihat saja, mereka hanya berdua, tapi mereka tetap bersikap layaknya sepasang kekasih.

“Fuma-kun…” panggil Miku.

“Hmm?” jawab Fuma masih dengan mata terpejam.

“Di sini tidak ada orang, bisakah kita berhenti bersikap seperti ini?” tanya Miku.

Fuma membuka matanya, “Bersikap seperti apa maksudmu?”.

“Seperti ini, seperti…” Miku menggantungkan kalimatnya dan Fuma melihat wajah gadis itu merona. Fuma bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Miku.

“Seperti apa tepatnya Miku-chan?” tanya Fuma setengah berbisik.

“Jangan memanggilku begitu, aku ini senpai-mu.” kata Miku.

Fuma mengangkat sebelah alisnya, “Kita kan pacaran, apa itu masih berlaku?” tanya Fuma lagi.

“Hanya pura-pura, ingat?”

“Aku tau ini hanya pura-pura, lalu?”

“Kau harus tetap memanggilku senpai saat tidak ada orang lain!” kata Miku kesal.

Miku menatap Fuma, wajah pemuda itu menunjukkan seolah ia sedang melihat sesuatu yang menarik. “Senpai.” katanya pelan.

“Begitu lebih baik.” kata Miku sambil mengalihkan pandangannya.

“Senpai.” panggil Fuma lirih. Miku menoleh dan mendapati wajah Fuma sudah sangat dekat dengan wajahnya. “Senpai,” panggilnya lagi dan kali ini suaranya lebih terdengar seperti bisikan. “Kau belum  menjawab pertanyaanku.”

Dan hal yang terjadi berikutnya adalah Miku merasakan bibir Fuma yang lembut di bibirnya dan tangannya yang kokoh terlingkar dengan manis di pinggang ramping Miku. Miku membelalakkan matanya terkejut dan tubuhnya menegang kaku seolah tak mampu merespon apapun. Kemudian, seolah sadar apa yang telah terjadi, Miku mencoba untuk mendorong Fuma, namun sepertinya sia-sia, Fuma tetap pada posisinya dan terus menciumi Miku. Kali ini, gadis itu mencoba memberontak dan melepaskan diri, namun dengan sigap Fuma memegang kepala Miku, menahannya agar tidak memberontak dan memperdalam ciumannya. Merasa lelah, Miku akhirnya pasrah dan mulai membalas ciuman Fuma.

Setelah beberapa lama, akhirnya Fuma melepaskan ciumannya. Dengan tangan yang masih terlingkar di pinggang Miku, Fuma menatap gadis yang kini terengah-engah karena kehabisan nafas itu.

“Apa sih yang kau lakukan!” Miku membuka suara.

Fuma menyeringai, “Kau pasti tau apa yang kulakukan. Kau merasakannya bukan?” balas Fuma.

“Kau- maksudku apa maksudmu melakukan itu?” tanya Miku.

“Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin saja.”

“Ugh-“ Miku mencoba melepaskan diri dari pelukan Fuma,  namun pemuda itu masih menahannya den mempererat rangkulannya. “Lepaskan aku!” jerit Miku.

“Kau belum menjawab pertanyaanku senpai.” kata Fuma.

“Pertanyaan apa?”

“Tentang sikap kita.”

“Hah? Itu… sikap yang seperti…” Miku menggantungkan lagi kalimatnya dan Fuma masih menunggu jawaban. “Seperti sepasang kekasih.” lanjut Miku dengan pipi yang sedikit bersemu.

“Kita kan memang sepasang kekasih,”

“Jangan mulai lagi Fuma-kun, kita hanya pura-pura.”

“Aku sudah bilang kan, aku tau.” kata Fuma sambil memberi kecupan singkat di bibir Miku sebelum melepaskan pelukannya dan meninggalkan gadis itu pergi.

Miku merasakan lututnya lemas dan kemudian jatuh terduduk. “Ck, dia itu-“ katanya sambil memegang bibirnya yang baru saja di kecup oleh Fuma.

-o0o-

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa hari-hari penuh sandiwara sudah mereka lalui selama sebulan penuh. Seluruh penghuni sekolah sudah terbiasa menerima fakta bahwa Fuma dan Miku memang benar-benar berpacaran. Gadis-gadis yang tadinya selalu mengganggu Fuma pun sudah menghentikan aksinya. Tapi entah kenapa, sampai saat ini Fuma belum juga meminta Miku untuk menghentikan sandiwara mereka. Dan sejak kejadian di atap, Fuma seolah-olah sengaja untuk terus menerus menciumnya di setiap ada kesempatan. Mulai dari kecupan singkat, sampai ciuman yang dalam. Dan ia selalu bisa untuk membuat Miku tak mampu berbuat apapun selain pasrah dan membalas ciuman-ciumannya. Hal ini membuat Miku hampir gila.

Gadis itu merasakan perasaannya campur aduk, jantungnya berdebar tidak karuan, dan seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas kehangatan dekapan Fuma, serta rasa bibir pemuda itu di bibirnya. Semuanya membuat Miku tak mampu berpikir jernih.

“Miku-chan.” Panggil sebuah suara. Miku mendongak dari buku yang sedang ia baca dan melihat Fuma sudah berdiri di depannya. “Kau sudah makan?” tanyanya.

“Sudah,” jawab Miku singkat.

Fuma kemudian duduk di bangku yang berada tepat di depan meja Miku. “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

Miku kembali melanjutkan membaca bukunya. Fuma memperhatikan Miku yang sedang membaca bukunya. Tak lama, Miku merasakan tangan Fuma yang hangat membelai lembut pipinya. Sekali lagi Miku mengalihkan pandangannya dari bukunya dan menatap Fuma. Fuma memperhatikan wajahnya dengan teliti dan tangannya yang tadinya berada di pipi Miku kini bergerak turun ke dagunya. Kemudian, pemuda itu mulai mendekatkan wajahnya ke arah Miku.

Sadar akan apa yang hendak Fuma lakukan, Miku menepis tangan Fuma dan menghentikan usahanya untuk mencium Miku. “Ada apa?” tanya Fuma bingung.

“Kita harus menghentikan semua ini.” Kata Miku.

“Apa?”

“Kita harus menghentikan sandiwara ini, Fuma-kun.” kata Miku sambil menatap mata Fuma. “Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, gadis-gadis itu sudah tidak lagi mengganggumu. Jadi tugasku sudah selesai.”

Tatapan Fuma tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. “Jadi itu maumu?” katanya dengan suara dan ekspresi yang datar.

“Ya, aku sudah tidak bisa lagi berpura-pura menjadi kekasihmu. Berada di sisimu, menghabiskan waktu bersamamu, dan berc-ciuman denganmu. Segalanya hanya pura-pura dan kurasa ini semua sudah cuk-“ belum sempat Miku menyelesaikan kalimatnya, Fuma sudah bangkit berdiri.

“Jadi itu yang selama ini kau pikirkan? Baiklah kalau itu yang kau mau.” kemudian Fuma berbalik pergi, namun sebelum ia benar-benar pergi, Miku sempat mendengar Fuma mengucapkan, “Kupikir kau mengerti.”

Miku menatap kepergian Fuma dengan tatapan kosong, seolah ada bagian dari dirinya yang hilang. Dan kata-kata Fuma yang terakhir, maksudnya apa? Apa yang tidak ia mengerti? Seketika Miku merasakan perasaan hampa. Hatinya terasa sakit, namun ia mencoba untuk menepis perasaan itu.

-o0o-

Sore itu mendung dan Miku teringat kalau hari ini ia tidak bawa paying, jadi ia harus bergegas pulang agar tidak kehujanan. Saat hampir mencapai gerbang, ada yang menarik tangannya. “Kau tidak bawa payung, Senpai?” tanya Fuma.

“Kau? Ti-tidak, aku tidak bawa.” jawab Miku gugup

“Mau, kuantar?” tanya Fuma lagi.

“Tidak perlu Fuma-kun, aku bisa pulang sendiri.” saat Miku hendak berbalik pergi, Fuma mempererat genggamannya di tangan Miku. “Fuma, lepas. Aku mau pulang.”

“Aku ikut denganmu."

“Ap-apa?”

Akhirnya, mereka berdua berjalan pulang bersama. “Kau tidak capek? Kau kan tidak biasa pulang berjalan kaki. Kenapa tidak pulang sendiri saja dengan mobilmu?” tanya Miku khawatir.

“Khawatir padaku?” tanya Fuma sambil menyeringai, membuat Miku memutar bola matanya. “Setiap hari dijemput dengan mobil bukan berarti aku tidak mampu pulang jalan kaki kan? Lagipula aku kan ingin pulang bersamamu.” lanjutnya membuat Miku tersipu.

“Apa-apaan ini?” pikir Miku, “Bukankah tadi siang ia marah padaku? Dan aku kan juga sudah bilang kalau semuanya sudah berakhir. Kenapa dia masih menemuiku?”

“Soal tadi siang-“ Fuma memulai pembicaraan, seolah mengerti apa yang dipikirkan Miku. Namun, tiba-tiba turun hujan dengan derasnya.

“Waaaaaa… Fuma-kun, hujaaaan!”

“Ya, kita harus mencari tempat berteduh.”

Mereka berdua akhirnya menemukan tempat berteduh di sebuah halte bus yang sepi. “Dingiiiiiiiiin” kata Miku. Tak disangka, Fuma melepas blazer sekolahnya dan memakaikannya pada Miku. Kemudian, Fuma memeluk Miku dari belakang. “Fu-Fuma-kun?”

“Masih dingin?” tanya Fuma. Miku menggeleng. Mereka berdua tetap bertahan dalam posisi itu untuk beberapa lama dan dalam keheningan.

“Fuma-kun,” panggil Miku.

“Ya?”

“Kenapa kau masih menemuiku? Bukankah semuanya sudah berakhir?”

Fuma mencium belakang kepala Miku. “Belum, karena kau masih belum mengerti.”

“Apa yang tidak aku mengerti?”

Miku mendengar Fuma menghela nafas. “Perasaanku.” katanya. “Apa kau tidak merasakannya?” tanyanya. Karena tidak ada jawaban dari Miku, Fuma memutar tubuh gadis itu agar menghadap ke arahnya. Miku menatap Fuma bingung.

“Aku memang memintamu berpura-pura menjadi pacarku. Tapi aku tidak pernah berpura-pura akan hal itu. Sebenarnya, aku memintamu bukan untuk membuat gadis-gadis itu menjauh, tapi agar aku bisa terus berada di dekatmu.” terangnya.

“U-uso! Tidak mungkin! Lalu, kenapa kau menciumku?” Miku merasakan wajahnya memanas saat mengatakan kalimat terakhir.

“Aku pernah bilang kan, karena aku ingin.”

“Tap-tapi-“

“Ssshhhhhh… Aku tau, kau sebenarnya menyukainya kan?” bisik Fuma tepat di telinga Miku. Membuat wajah gadis itu memerah.

“I-itu karena kau memaksaku.” sangkal Miku gugup.

“Tapi kau selalu membalasnya, jadi kusimpulkan kau menyukainya, Miku-chan.” bisiknya lagi.

“Sudah kubilang, aku ini senpai-mu!” Fuma meletakkan telunjuknya di bibir gadis itu agar ia berhenti bicara. Ia menarik Miku mendekat dan menciumnya.

Secara refleks Miku membalas ciuman Fuma dan mereka terus berciuman sampai kebutuhan akan oksigen terasa amat mendesak dan merekapun berhenti.

Masih terengah-engah, Fuma berkata, “Sudah kubilang kau menyukainya Miku-chan.” Miku menyentuh bibirnya dan tersadar apa yang baru saja ia lakukan. Ia membalas ciuman Fuma, bahkan tanpa memberontak terlebih dahulu. Dengan malu, ia menatap wajah Fuma yang masih memeluk pinggangnya. Ia melihat pemuda itu tersenyum.

“Apa kau menyukaiku, Miku-chan?” tanyanya.

“Ap-apa?”

“Jawablah, atau kau mau aku menciummu sampai kau kehabisan nafas?” kata Fuma sambil menyeringai.

“Ak-aku… aku…”

“Kau lebih suka kucium rupanya-”

“Ya, aku menyukaimu!” jawab Miku cepat, takut Fuma benar-benar melakukan apa yang dikatakannya.

Fuma terkekeh geli, “Boku mo, suki da yo.” kata pemuda itu sambil mengecup kening Miku.

“Aku belum mendapat imbalanku karena sudah berpura-pura menjadi pacarmu, kau sudah berjanji akan memberiku imbalan.” kata Miku.

Fuma mengangkat sebelah alisnya, “Baiklah, katakan padaku apa yang kau mau?” tanyanya.

“Jadilah pacarku, bukan pura-pura, tapi yang sebenarnya.” kata Miku malu-malu.

Fuma tersenyum dan mempererat pelukannya, “Tentu saja,” katanya.

OWARI

-o0o-

Apa iniiiiiii???? Ko makin ngga karuan? *Jedotin pala ke tembok* Kayanya pas bikin ini kerasukan setan kantor dah! *bikin di kantor soalnya* *bukannya kerja* *plakk!* Mohon di comment T^T *sujud nyembah-nyembah*. Aneh ngga sih? Aneh ya? Si Mikunya kayanya kesambet Aziz Gagap deh.. Plis comment, butuh pendapat ><


?

Log in

No account? Create an account