ezyssin (yaotomeshinju) wrote,
ezyssin
yaotomeshinju

My Sweetest Chocolate


My Sweetest Chocolate
Author : Yaotome Shinju
Tittle : “My Sweetest Chocolate”
Sequel: “Sweet Bitter Chocolate”
Genre : Romance (maybe?), Smut (faint)
Rating : NC-17
Main Cast: Yukimura Niya (OC) x Takaki Yuya dan karakter numpang lewat lainnya xD.
Disclaimer: JUMP milik Penciptanya, Orangtuanya dan JE. OC-pun masih milik orang tuanya. Shinju cuma punya plot ceritanya ajah :3.

-o0o-
Hubungan Niya dan Yuya sudah berjalan selama lima bulan. Dan selama itu, tidak pernah ada pertengkaran yang berarti di antara mereka. Hubungan mereka berjalan harmonis namun tidak bisa dikatakan tidak ada masalah sama sekali. Masalah mereka adalah keberadaan Hanazono Mio yang – seolah tak kenal lelah – terus saja mengganggu mereka berdua, tapi selebihnya, tidak ada masalah besar yang berhasil membuat mereka bertengkar apalagi berpisah.
“Yuyan, duduk!” perintah Niya. Saat ini mereka sedang berada di atap sekolah, tempat favorit mereka berdua.
“Ck! Tidak! Sudah kubilang aku tidak lapar!”
“Kau harus makan! Nanti kau bisa pingsan!” Yuya cemberut mendengarnya. Ia menggelengkan kepalanya, keras kepala.
“Aku tidak mau! Jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Kau bukan ibuku, Niyan!”
“Siapa juga yang sudi mempunyai anak sepertimu,” bisik Niya pada dirinya sendiri dan beruntungnya tidak didengar oleh Yuya.
“Apa?” – “Tidak ada apa-apa. Kau tetap harus makan, Yuyan,” bujuk Niya lagi.
“Tidak! Dan tidak ada yang bisa memaksaku.” Yuya melipat tangannya di depan dada, masih berdiri, ia memandang ke bawah, melihat Niya yang sudah duduk sejak tadi.
Niya mengangkat sebelah alisnya, “Baiklah, kalau kau tidak mau makan,” kata Niya santai namun dengan nada berbahaya. “Aku rasa aku tidak akan memberikan Limited Edition Mini Doraemon yang baru kubeli dan niatnya kuberikan padamu. Asal tahu saja, barang itu cuma ada lima dan itu yang terakhir.”
“Mini Doraemon? Limited Edition?” Yuya langsung duduk di hadapan Niya. “Apa dia bisa bicara?” tanya Yuya berapi-api.
“Tentu saja bisa,” jawab Niya sambil tersenyum, “Tapi berhubung kau tidak mau makan, jad-“
“Akk!!” Yuya membuka mulutnya lebar-lebar, meminta Niya menyuapkan makanan ke mulutnya. Niya hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya yang menurutnya sangat kekanak-kanakan itu.
“Ayo buka mulutnya yang lebar, pesawatnya mau masuk! Aaaaaaaaaaaa…” goda Niya sambil terkekeh, sedang Yuya memasang wajah sebalnya walau tetap membuka mulutnya lebih lebar dari sebelumnya. Niya mulai menyuapi Yuya dengan bekal yang ia bawa.
“Habis!!” kata Yuya senang. “Jadi kapan kau akan memberikan mini Doraemon itu kepadaku?” tanyanya bersemangat.
“Nanti, sepulang sekolah kau ke rumahku dulu. Ada di rumah soalnya,” kata Niya sambil membelai lembut pipi Yuya. Gerakan tangan Niya terhenti –  walau masih menempel di pipi Yuya – saat mata mereka saling bertatapan.
“Mau coklat?” dengan suara rendah Yuya bertanya, membuat gadis yang di hadapannya itu merona. Tentu saja, pertanyaan Yuya mengandung arti tersendiri. Ia memang akan memberikan permen coklat kepada kekasihnya itu, tapi mereka akan memakannya dengan cara yang berbeda.
Yuya, membukakan bungkus permen coklat favoritnya. Kemudian tangannya yang bebas meraba bibir Niya, meminta gadis itu membuka mulutnya dan ia kemudian memasukkan permen itu ke dalam mulut Niya. Lalu dengan segera ia menarik Niya ke dalam sebuah ciuman.
Ciuman yang awalnya lembut perlahan berubah menjadi lebih bergairah. Tangan Yuya bergerak ke arah belakang kepala Niya sedang yang sebelah lagi berada di pinggangnya, menarik gadis itu mendekat dan memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangan Niya kini berada di punggung Yuya, memeluknya erat-erat.
Darah Niya berdesir saat ia merasakan bibir Yuya membuka dan menekan bibirnya lembut. Lidah Yuya secara lembut mengelitik bibir bawahnya, menggodanya dan segera melesak masuk saat Niya ikut membuka bibirnya, menciumnya penuh-penuh dengan lidah yang menjelajahi segala yang ada di balik bibir kekasihya itu, ikut mencicipi rasa coklat yang sudah membaur di dalam mulut Niya.
Tangannya yang tadinya ada di belakang kepala Niya kini turun ke tengkuknya dan secara perlahan Yuya mengusapnya secara lembut. Membuat gadisnya mendesah pelan, sambil terus berusaha  mengimbangi gencaran serangan dari lidah Yuya yang saat ini sedang menginvasi rongga mulutnya.
Yuya menyeringai menghadapi perlawanan dari Niya. Berniat tak mau kalah, pemuda itu semakin semangat dalam menjelajahi mulut kekasihnya. Ia menyesap, menghisap dan memilin lidah Niya dengan lidahnya sendiri, dan tentu saja ia yang memenangkan pertarungan itu. Selama sesi “adu mulut” mereka itu, permen coklat yang tadi dimasukkan Yuya ke dalam mulut Niya bekali-kali bertukar tempat. Mereka memang membagi coklat itu dari mulut ke mulut, membuat ciuman mereka dipenuhi dengan rasa coklat yang pahit sekaligus manis dan yang jelas memabukkan keduanya.
Yuya melepaskan ciumannya karena pasokan oksigen yang menipis, ia menatap Niya yang masih memandangnya sambil terengah-engah seolah habis lari jarak jauh. Ia menarik gadis itu ke pangkuannya dan kembali melanjutkan ciuman mereka sampai bel tanda masuk berbunyi.

-o0o-
“Waw! Kau berantakan sekali Niya.” kata Nagisa saat Niya memasuki kelas dengan seragam dan rambut yang sedikit acak-acakan. “Biar kutebak, ‘Ciuman Coklat’ hari ini pasti luar biasa.” lanjutnya saat Niya sudah duduk di sebelahnya. Sahabatnya itu hanya tersipu malu.
“Ahh enaknya, seandainya Miura ada di sini. Aku pasti bisa merasakan itu setiap hari juga.” kata Nagisa sedikit iri.
“Hehehe,” Niya benar-benar tidak tahu harus berkata apalagi. Tentu saja ia menikmati keadaan ini. Keberadaan Yuya di sampingnya, status mereka yang sudah berpacaran, dan tentu saja ciuman-ciuman mereka.
“Niya?” – “Hmm?”
“Apa Takaki-kun sering berkata ‘Aku mencintaimu’?” tanya Nagisa yang membuat Niya terdiam. “Ah! Bodohnya aku! Pasti dia sering ya. Melihat kalian berdua selalu melekat seperti amplop dan perangko begitu. Maaf ya tiba-tiba bertanya begitu. Habis aku tiba-tiba kangen Miura. Aku bosan, dia mengucapkan itu hanya lewat email.” lanjut Nagisa. Nagisa tidak menyadari pertanyaan itu membuat sahabatnya itu akan menghadapi masalah yang besar.

-o0o-
“Apa dia pernah mengatakan itu ya? Aku tidak mengingatnya.” batin Niya. “Kapan? Pas ia menembakku? Seingatku dia cuma mengucapkan ‘tsukiatte kudasai’. Jadi dia belum pernah mengatakan itu kepadaku?”
“Niyan? Kau kenapa?” tanya Yuya yang bingung karena sedari tadi Niya diam saja. Biasanya gadis itu bahkan tidak bisa berhenti bicara, kecuali saat Yuya ‘membungkam’ mulutnya.
“Tidak apa-apa,” kata Niya sambil berusaha tersenyum. Tiba-tiba, datang segerombolan orang berwajah seram yang sepertinya hendak menyerang Yuya. “Lagi?” desah Niya lelah, “Kenapa selalu seperti ini?”
Yuya memandang Niya dengan tatapan penuh arti sebelum menepuk lembut kepala gadis itu dan berlari menghajar gerombolan yang datang tadi.
“Itteeee~~” rintih Yuya. Ia sedang ada di rumah Niya dan gadis itu tengah mengobati memar pada wajahnya akibat berkelahi tadi.
“Hanazono senpai itu, kapan sih dia menghentikan semua ini? Aku tidak mau seperti ini lagi. Melihatmu begini sungguh menyakitkan,” kata Niya kesal, ia baru selesai membersihkan luka Yuya dengan alkohol. “Aku tidak suka, melihat wajahmu penuh luka begini. Baru sembuh, ia sudah mengirimkan orang lagi dan kau harus berkelahi dan terluka lagi.” Kali ini tangannya membelai wajah Yuya lembut.
Yuya menatapnya tajam, “Kau tenang saja, suatu saat nanti ia pasti akan menyerah dan berhenti mengganggu kita.” Niya mengangguk. “Doraemonnya mana?” Yuya menagih mini Doraemon yang dijanjikan oleh Niya tadi.
“Kau~~” Niya mencubit pipi Yuya gemas sampai pemuda itu mengaduh kesakitan  sebelum ia berjalan ke kamarnya dan mengambil mini Doraemon yang ia janjikan.
Itu adalah sebuah robot dengan remote control sehingga bisa bergerak, bahkan berbicara. Ukurannya memang kecil, tingginya hanya sekitar 20 cm, tapi itu barang langka dan susah didapat. Harganya juga cukup mahal. Tapi Niya benar-benar ingin membelinya dan memberikannya kepada Yuya saat melihatnya.
“Uwaaaaa!!! Arigatou!” ia terlonjak senang saat menerimanya. Setelah menaruh mini Doraemonnya di dalam tas, Yuya langsung memeluk Niya erat. “Aku akan memberimu hadiah nanti,” katanya.
Niya menggeleng, “Tidak perlu.”
“Yasudah, aku pulang dulu ya.”  Kata Yuya sambil mengecup kening Niya. Niya kemudian mengantar Yuya sampai ke depan pagar.
“Hati-hati,” kata Niya. Namun, saat Yuya beranjak pergi, Niya menggenggam lengan Yuya, menahannya. Yuya berbalik dan Niya memberinya kecupan singkat di bibir. “Yuyan no koto daisuki.”kata Niya pelan.
Yuya seperti hendak mengatakan sesuatu, namun yang keluar hanya, “Un.” dan ia kemudian berbalik pergi.

-o0o-
“Datanglah ke halaman belakang sekolah saat istirahat”
Yuya berjalan ke arah halaman belakang sekolah, setibanya di sana ia mendapati seorang gadis tengah berdiri di sana.
“Takaki-sama, jadi kau yang memanggilku?” seru gadis itu senang, ia adalah Hanazono Mio.
“Senpai, ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Apa?” tanya Mio sambil tersenyum.
“Kumohon, berhentilah menggangguku. Aku tidak mau melihat Niya sedih lagi,” jawaban Yuya dengan segera menghapus senyum di wajah Mio.
“Niya, Niya, Niya lagi! Aku tidak mau!”
“Senpai, kumohon!”
“Tidak, sampai kau menjadi milikku!”
“Tapi aku tidak bisa, aku sudah memilihnya. Hatiku memilihnya.”
“Tapi aku menyukaimu,”
“Kalau kau menyukaiku, berhentilah menggangguku.” kata-kata Yuya berhasil membuat Mio terdiam. “Aku sudah tidak peduli kalau kau terus mengirimkan orang-orangmu untuk menyerang dan berkelahi denganku. Aku akan luka, tapi aku tidak akan tersakiti oleh hal itu. Dan kau pasti tahu hal itu.” Hening di antara mereka berdua.
“Tapi berbeda saat melihat Niya bersedih, itu sungguh-sungguh membuatku ikut merasa sakit. Kau tidak mau aku merasa tersakiti, bukan? Jadi, kumohon berhentilah menggangguku.”
Mio terdiam cukup lama, “Baiklah,” kata Mio akhirnya. “Aku akan berhenti mengganggumu. Aku akan berhenti menyuruh orang-orangku untuk menyerangmu. Tapi sebelumnya,” Yuya menaikkan sebelah alisnya. “Panggil aku Mio, untuk yang pertama dan terserah padamu soal apakah ini akan menjadi yang terakhir atau tidak.”
“Mio..” kata Yuya pelan, membuat Mio tersenyum.
“Dan juga ini…” gadis itu mencium bibir Yuya lembut untuk beberapa saat sebelum melepaskannya. “Untuk yang pertama dan, walau aku tidak berharap demikian, yang terakhir.

-o0o-
Niya begitu terkejut saat ia melihat Mio dan Yuya berciuman, hatinya terasa sakit. Ia baru saja hendak ke kantin saat ia melihat Yuya ke arah halaman belakang sekolah. Ia sempat ke kantin sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk berbalik dan menyusul Yuya karena penasaran. Dan begitu sampai, ia menemukan pemandangan yang sangat menyakitkan untuk dilihat olehnya.
‘Apakah ini alasan Yuya tidak pernah bilang kalau ia mencintaiku?’ batin Niya. ‘Apa ia ternyata mencintai Hanazono senpai, dan akhirnya sadar kalau ia telah salah karena memilihku? Atau ia merasa lelah karena Hanazono senpai terus mengirim orang untuk menyerangnya hingga akhirnya ia menuruti permintaan Hanazono senpai? Sama seperti sebelumnya.’ banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya.
Yang jelas, apapun alasan Yuya, Niya merasa terluka karena hal ini. Ia segera berbalik pergi, berusaha sebisa mungkin agar Yuya tidak melihatnya.
Sepulang sekolah, Niya berusaha menghindari Yuya. Ia tidak mau bertemu dengan kekasihnya itu. Niya sengaja mengambil jalan lain yang tidak biasa di lewati oleh Yuya. Akan tetapi,
“NIYAN!!” Yuya memanggilnya dari arah belakang. Niya mengumpat dalam hati, mengapa pemuda itu berhasil menemukannya? Niya mempercepat langkahnya, berpura-pura tidak mendengar panggilan Yuya tadi. Namun terlambat, sepasang tangan berhasil meraih pinggangnya dan menariknya. Yuya memeluknya dari belakang.
“Hei, kau tidak mendengarku ya? Kenapa kau lewat sini?” tanya Yuya.
“Bagaimana kau tahu aku lewat sini?” tanya Niya datar, ia hanya terdiam kaku, tidak merespon pelukan Yuya ataupun berusaha untuk melihat wajahnya.
“Aku tidak sengaja melihatmu lewat sini tadi,” jawab Yuya yang hanya dijawab dengan “o” pendek dari Niya. “Kau kenapa?” Yuya balas bertanya. Niya hanya menggeleng. “Benarkah?” tanya Yuya lagi, Niya tidak memberi respon apapun. Dan sepertinya Yuya tidak membutuhkan jawaban.
Yuya mengecup singkat puncak kepala Niya dan kemudian ciumannya itu merambat turun. Sebelah tangan Yuya menyingkirkan sebagian rambut Niya dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu sebelum mencium telinganya dan sekali-sekali menggigitnya lembut. Membuat Niya sedikit bergidik karena geli, Yuya sendiri sedikit berlama-lama di daerah itu.
Kepala Yuya kembali bergerak turun, kali ini ia menuju kea rah bagian leher Niya, namun, “Yuyan, cukup! Hentikan!” Niya sedikit bergeser, menjauhkan tubuhnya dari wajah Yuya. “Nanti ada yang lihat.” kata Niya memalingkan wajahnya dari arah Yuya. Bukan karena malu, tapi karena memang ia tidak mau melihat wajah Yuya.
Yuya memutar tubuh Niya agar menghadap ke arahnya dan ia mengangkat dagu gadis itu agar mau menatapnya. “Di sini sepi, Niyan.” kata Yuya setengah berbisik sebelum menarik Niya kedalam sebuah ciuman. Entah mengapa Niya merasa ciuman Yuya lebih menuntut dibanding biasanya, seolah ia benar-benar membutuhkan ciuman itu. Tapi, mengingat apa yang dilihatnya tadi siang, Niya merasa ciuman itu justru menyakitinya.
“Yu-yan, hen-ti-kan!” kata Niya terputus-putus akibat ciuman itu. Namun sepertinya Yuya tak mendengarkannya. Pemuda itu terus melanjutkan aksinya, bahkan sepertinya ia menginginkan lebih. Yuya mulai menjilat bibir bawah Niya agar ia memberinya jalan masuk. Tapi Niya hanya diam saja dan malah mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
“Kenapa?” tanya Yuya, “Tak biasanya kau menolakku.” Niya menggeleng
“Tidak apa-apa.” jawabnya, menolak untuk menatap mata Yuya.
“Tatap aku Niyan, ada apa denganmu?” –  “Sudah kubilang tidak ada apa-apa!”
“Bohong!!” dengan kasar Yuya memegang bahu Niya yang segera ditepis oleh gadis itu.
“Jangan sentuh aku! Aku tidak mau melihatmu!!” Niya menjauhkan dirinya dari Yuya dan hendak berbalik pergi. Namun genggaman tangan Yuya menghentikan langkahnya.
“Katakan padaku, kau kenapa?!” Yuya terkejut dan sedikit panik saat Niya meneteskan air matanya.
“Lepaskan aku.” kata Niya dengan nada lelah.
“Ni-Niyan? Hei, jangan menangis. Aku minta maaf.” kata Yuya lembut, berusaha menenangkan Niya. Ia berusaha untuk memeluk gadis itu, tapi gadis itu malah menghindar.
“Aku melihatnya.” kata Niya sedikit terisak, Yuya menatapnya bingung. “Aku melihatnya, kau dengan Hanazono senpai.” Yuya membelalakkan matanya.
“I-itu tidak seperti dugaanmu, kau hanya salah paham Niyan.” Niya menggeleng.
“Itu sudah menjelaskan semuanya, Yuyan. Kau tidak perlu mengasihaniku. Kalau kau mencintai Hanazono senpai, kau bisa bersamanya.” isakan Niya semakin keras.
“Tidak, Niyan, dengarkan aku, ini hanya sala-“
“Cukup! Kau bahkan tidak pernah mengatakan kalau kau mencintaiku kan? Sebaiknya kita akhiri saja sampai di sini.” belum sempat Yuya mengeluarkan sepatah kata pun, Niya sudah berlari pergi meninggalkan pemuda itu.
“Sial!!!”
-o0o-
Esoknya, Niya benar-benar menghindari Yuya. Ia bahkan sampai bersembunyi di kolong meja guru saat pemuda itu datang ke kelasnya untuk mencarinya. Ia juga tidak pergi ke kantin atau ke tempat manapun yang biasa Yuya datangi.
“Niyan, kita harus bicara.” Yuya mencegatnya di depan kelas begitu bel pulang berbunyi.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Takaki-kun.”
“Kau memanggilku apa tadi?” tanya Yuya setengah tidak percaya.
“Taka-“
“Niya! Cobalah bicara padanya. Mungkin dia benar,  kamu hanya salah paham.” kata Nagisa, yang sudah mengetahui permasalahan mereka, mencoba menengahi. Yuya memberi pandangan berterima kasih padanya.
“Tidak mau, Na-chan! Aku tidak mau bicara apapun!” kata Niya keras kepala. Ia berjalan menerobos Yuya, hendak pergi meninggalkannya. Dan sama seperti kemarin, Yuya menggenggam tangan Niya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya.
“Sakit! Lepaskan aku! Kau menyakitiku!” kata Niya dengan tatapan terluka. Yuya perlahan melepaskan pegangan tangannya, membiarkan Niya pergi.
“Maafkan dia, Takaki-kun. Berikan dia waktu untuk menjernihkan pikirannya.” kata Nagisa pelan sebelum kemudian menyusul Niya.
“Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Niyan.”
-o0o-
Sudah hampir seminggu Niya tidak berbicara dengan Yuya. Atau bisa dibilang, sudah hampir seminggu Niya memutuskan hubungannya dengan Yuya, walau Yuya belum menyetujui untuk berpisah dengannya. Niya menghela nafas berat, ada yang mengganggu pikirannya. Sejak kemarin Niya sama sekali tidak melihat Yuya.
Biasanya, walaupun Yuya tidak berusaha untuk bicara dengannya karena pemuda itu sedang memberinya waktu untuk menjernihkan pikiran, Yuya tetap berada di sekitarnya, mengawasinya dari jauh. Tapi sekarang tidak, Yuya benar-benar menghilang. Apakah Yuya sudah melepasnya? Atau ia sudah benar-benar berpaling dan jatuh ke dalam pelukan Mio?
Niya sebenarnya tidak rela melepas Yuya, ia masih sangat menyayanginya. Ia masih ingin berada di sampingnya, bersamanya. Niya sangat merindukan Yuya. Ia ingin sekali percaya bahwa ia hanya salah paham, tapi ia sudah terlanjur marah. Sangat marah, juga sedih. Tapi, ia akhirnya memutuskan untuk mencari Yuya.
Menolak untuk ke kelasnya dan bertanya pada teman-temannya, Niya berkeliling di sekitar sekolah, mencari ke tempat-tempat yang sering didatangi Yuya. Namun hasilnya nihil, Yuya tidak ia temukan dimanapun. Ia lalu berusaha mencari ke tempat terakhir yang mungkin ada Yuya di sana. Atap.
Niya menahan nafas saat tangannya memutar kenop pintu untuk ke atap. Tidak ada siapapun di sana. Kini Niya benar-benar bertanya-tanya dimana Yuya. Apakah ia tidak masuk? Begitu pikirnya.
Ia berjalan ke tempat dimana ia dan Yuya biasa duduk bersama untuk makan siang atau hanya sekedar mengobrol. Ia lalu duduk di sana sambil menatap ke arah sebelahnya yang kosong. Ia mengeluarkan sebungkus permen dan memakannya. Tak terasa air matanya menetes saat rasa coklat yang pekat memenuhi mulutnya. Ia benar-benar merindukan Yuya.
“Gadis bodoh!” kata sebuah suara. Niya menoleh ke belakang dan mendapati Mio tengah berdiri di sana. “Kudengar kau bertengkar dengan Takaki-sama. Benar-benar bodoh!” Niya hanya memutar bola matanya sebal.
“Kenapa kalian tidak mengakhiri hubungan kalian dari kemarin-kemarin sih? Kenapa harus saat aku sudah memutuskan untuk merelakannya?” Niya membelalakkan matanya dan segera menoleh kepada Mio.
“K-kau menyerah? Tapi waktu itu aku melihatmu dengannya berci-u-man.” kata Niya dengan suara sangat pelan pada kata terakhir.
“Waktu itu dia memintaku untuk berhenti mengganggu kalian, dan itu sebagai permintaanku padanya sebelum benar-benar melepaskan kalian.”
“D-dia memintamu?”
“Ya. Dan kau pikir untuk siapa dia melakukan hal itu? Dia sampai memohon kepadaku.” kata Mio dengan wajah kesal. “Dan kau malah memutuskannya! Tahu begitu aku tidak akan mau melepaskannya.”
Niya mendengus kesal, “Lalu sekarang kenapa kau tidak mengambil kesempatan itu?”
“Aku tahu dia hanya menginginkanmu. Tak ada kesempatan untukku. Dari awal aku sudah tahu hal itu, tapi aku tidak mau menyerah. Tapi sekarang, yaaaah….” Mio mengangkat bahu.
“Lalu sekarang dimana dia?”
“Kau ini! Kau pacarnya bukan sih? Dia sakit! Masa pacarmu sendiri sakit kau tidak tahu!”
“Apa? Dia sakit??” Niya sudah bangkit dan hendak berlari pergi, namun Mio menahannya.
“Mau kemana kau?” tanya Mio.
“Tentu saja menemuinya! Memang kemana lagi?”
“Baka!! Ini masih jam sekolah tahu! Aku tidak akan membiarkanmu membolos hanya karena hal itu.” Perkataan Mio membuat Niya memberengut. “Dan lagi, aku tidak mau kau cepat-cepat berbaikan dengannya. Jadi, tunggu sampai pulang sekolah!” kata Mio sambil menyeringai, membuat Niya mendelik menatapnya.
-o0o-
Niya sudah berada di depan rumah Yuya, tapi ia ragu untuk masuk. Saat ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, pintu rumah Yuya terbuka.
“Niya-chan?” panggil sebuah suara. “Kau mau menjenguk Yuya ya?” ternyata itu adalah ibu Yuya. Niya mengangguk. “Masuk saja kalau begitu, ia ada di kamarnya.”.
Niya akhirnya masuk ke dalam rumah Yuya dan menuju ke kamarnya, didampingi oleh ibu Yuya. Sesampainya di kamar Yuya, Niya melihat pemuda itu tengah tertidur pulas, wajahnya sangat pucat. Sebenarnya ia sakit apa?
“Dia demam,” kata ibu Yuya, menjawab pertanyaan yang ada di benak Niya. “Dari kemarin panasnya tidak turun-turun juga. Padahal sudah minum obat.” terang ibu Yuya dengan wajah khawatir. “Ia juga terus memanggil namamu Niya-chan.” wanita itu menatap Niya sekarang.
“A-aku…?
“Tenang saja, Niya-chan kan sudah ada di sini. Ia pasti akan segera sembuh.” ibu Yuya tersenyum menenangkan. “Yasudah, aku tinggal dulu. Niya-chan, kau bisa mengompres Yuya kan?”
“Anooooo..” kata Niya saat ibu Yuya hendak berbalik pergi. “Apa boleh aku menginap hari ini? Aku… ingin menjaganya. ibu Yuya kembali tersenyum, “Tentu saja.”
Setelah ibu Yuya meninggalkan kamar, Niya segera mengirim pesan kepada kakaknya, memberitahu bahwa ia tidak pulang hari ini.
“Ni-yan,” suara parau Yuya mengejutkan Niya, membuat Niya langsung menoleh ke arah pemuda itu. Rupanya ia tengah mengigau. Niya segera menghampirinya dan duduk di pinggir tempat tidurnya. “Ssssh…” kata Niya sambil membelai rambut Yuya membuat pemuda itu tidur dengan lebih tenang.
Ia kemudian mengambil baskom dan handuk yang terletak di sebelah tempat tidur Yuya dan mulai mengompresnya, lalu ia menunggui Yuya sampai jatuh tertidur sambil menggenggam tangannya.
Hari sudah semakin gelap, Niya perlahan-lahan membuka matanya dan menatap Yuya yang masih tertidur. Ia mengambil handuk yang ada di kening Yuya lalu mengecek suhu tubuh pemuda itu dengan punggung tangannya. Ia bernafas lega karena panasnya sudah mulai turun.
Niya terus menatap wajah Yuya sampai ia merasa jantungnya berdebar kencang, membuat perasaannya bergejolak. Ia sangat sangat sangat merindukan pemuda di hadapannya itu, sampai ia sendiri kesulita bernafas karena menahan perasaannya itu.
Memberanikan diri, Niya mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Yuya singkat. Namun, ia sangat terkejut karena tiba-tiba Yuya membuka matanya. Ia langsung menarik tubuhnya menjauh sambil menatap pemuda itu dengan salah tingkah.
“Niyan?”
“Uhhh… hai! Hisashiburi da ne. Se-sepertinya panasmu sudah turun,” kata Niya canggung.
Dengan cepat, Yuya menarik tubuh Niya lagi ke arahnya, seolah tak mau berlama-lama berada jauh dari gadis itu. Ia langsung menciumnya sambil mengangkat gadis itu ke pangkuannya dan Niya segera membalas ciuman itu. Mereka berciuman dengan sangat bergairah. Saling melepas rindu antara satu sama lain dan tak ingin terpisah lagi. Lidah mereka saling berdansa dengan nada yang seirama, saling menyedot udara dari mulut masing-masing. Akhirnya mereka berdua melepaskan pagutan di antara mereka berdua.
Yuya menatap Niya lekat-lekat, seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Niya nyata dan benar-benar sedang berada di pangkuannya. Niya kembali mengecup bibir Yuya. Kecupan yang ragu-ragu dan sangat singkat, namun mampu meyakinkan Yuya kalau semua ini benar-benar nyata.
“Kau nyata?” Niya mengangguk. “Kau sudah tidak marah?” kali ini ia menggeleng. Sambil tersenyum, ia segera memeluk Yuya erat.
“Hanazono senpai sudah menjelaskan semuanya.”
“Hanazono senpai?” Niya mengangguk.
“Maafkan aku karena tidak mau mendengarkan penjelasanmu dulu. Aku rindu sekali padamu, Yuyan,” kata Niya sambil mempererat pelukannya,.
Berniat tidak mau melepaskan gadis di pangkuannya itu, Yuya kembali menarik Niya ke dalam sebuah ciuman. Pelan-pelan Yuya bergeser dan membalik posisi mereka. Ia bergeser dan membaringkan tubuh Niya ke sampingnya, sedang ia sendiri berada di atas tubuh Niya. Ia melakukan itu tanpa melepas ciuman di antara mereka.
“Aku tidak akan membiarkanmu lepas kali ini. Kau tidak akan bisa lagi pergi dariku. Kau harus membayar semuanya, Niyan.”
Niya baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tetapi Yuya sudah kembali melumat bibirnya.” Ciuman Yuya bergerak turun, ke rahang, dagu, sampai akhirnya tiba di leher Niya. Ia mengecup, menyesap, mengisap dan sekali-sekali mengigitnya lembut. Menandai area itu sebagai daerah kekuasaannya. Niya hanya bisa memejamkan mata menghadapi sensai yang mendera tubuhnya saat ini. Tangan Yuya secara perlahan namun pasti, melepaskan kancing baju Niya satu persatu. Setelah kancing terakhir berhasil terlepas, tangan Yuya berpindah ke pinggang Niya dan pelan-pelan bergerak naik hingga sampai di tempat yang ia tuju.
Secara lembut, Yuya meremas dada Niya, membuat gadis itu mengerang pelan. Yuya melepaskan ciumannya dari leher Niya dan kembali ke bibirnya. Tangannya kini melepaskan kemeja yang masih melepaskan kemeja yang masih melekat di tubuh Niya. Sedang Niya, ia yang kini melepaskan satu per satu kancing piyama Yuya.
Saat tangan Niya masih berkutat dengan kancing piyamanya, Yuya berusaha melepaskan pengait bra yang ada di punggung Niya dan terlepas bersamaan dengan Niya yang berhasil melepas kemejanya. Yuya kembali mencondongkan wajahnya ke bawah. Namun kali ini bukan menuju leher Niya tapi langsung menuju bagian dadanya. Ia memasukkan putingnya yang sudah mengeras ke dalam mulutnya, mengisapnya, mengulumnya, dan sesekali menggigit halusnya. Sedang tangannya bermain main di bagian dadanya yang lain.
Niya gelagapan menghadapi sensasi yang menderanya saat ini, tangannya berada di belakang kepala Yuya, mencengkram rambutnya, seolah memintanya untuk terus melanjutkan aksinya. Sedangkan mulut Niya tak hentinya mengeluarkan desahan-desahan pelan. Memberi tanda pada Yuya bahwa ia juga  menikmatinya.
Tangan Yuya bergerak turun, ia menyingkap rok Niya kemudian menggosok-gosokkan telapak tangannya ke daerah terintim milik gadis itu dengan gerakan yang sangat pelan dan menyiksa. “Yu- ahh~ yahnn, jang- ahhh! Jangan mmmmm….me-nyik-sa kuuh… ngggh!”
Yuya menyeringai, “Sudah kubilang kan, kau harus membayar perbuatanmu Ni-yan~” ia berbisik dengan suara yang dalam dan rendah. Sambil mengatakan hal itu, ia melepaskan pengait rok Niya dan menariknya lepas, sebelum kemudian melemparkannya entah kemana.
Kemudian, secara perlahan-lahan melepaskan celana dalam Niya yang merupakan penutup akhir, sekaligus penutup bagian yang paling rahasia dalam dirinya. Niya sedikit terkejut saat bagian kewanitaannya disapa dinginnya suhu ruangan. Namun itu tidak berlangsung lama karena ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah melingkupinya di daerah tersebut.
Penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi, Niya mengangkat sedikit kepalanya dan melihat kepala Yuya berada di balik selangkangannya. “Arrrrghh… ahhh…” Niya kembali merebahkan kepalanya di atas bantal sementara Yuya masih terus melancarkan aksinya. Ia menghisap dan menjilat dengan sangat lambat, itu membuat Niya merasa sedikit frustasi.
“Yuyaaan~”  rengek Niya. Namun, seolah tak mendengar rengekkan kekasihnya itu, Yuya terus saja bergerak dengan kecepatan lambat. Niya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah pada lidah Yuya yang bergerak menyiksanya. Saat gadis itu hampir mencapai batasnya, Yuya menghentikan kegiatannya, membuat Niya mengeluarkan desahan kecewa.
Menyeringai, Yuya kembali melumat bibir Niya. Tangannya perlahan bergerak untuk melepaskan celananya sendiri. Sementara Niya, sebelah tangan gadis itu menelusup dan mencengkeram halus rambut Yuya, sementara tangan yang satunya lagi memeluk punggung pemuda itu erat. Mereka terus berciuman sampai-
“HMMPPPPHH!!!” Niya menjerit tertahan saat tiba-tiba Yuya memasukinya tanpa memberinya persiapan terlebih dahulu. Ia merasakan sakit yang teramat sangat saat Yuya merobek lapisan pelindungnya, rasanya seperti ada jarum-jarum yang menusuk-nusuk tubuhnya. Ia ingin menjerit sekeras yang ia bisa. Namun, bibir Yuya dengan keras kepalanya tidak mau melepaskan mulutnya walau hanya sedetik.
Saat tubuhnya sudah lebih tenang dan saat rasa sakit perlahan-lahan mulai mereda, Yuya melepaskan ciumannya.
“Brengsek!! Kau sangat brengsek, Takaki Yuya! Bisa-bisanya kau melakukan ini padaku?! Tak bisakah kau memberitahuku lebih dahulu??” Niya memaki-maki kekasihnya itu atas tindakan semena-mena yang baru saja dilakukannya.
“Kau ini benar-benar… Kau ini benar-benar bre- Ahhhhh…” makian Niya terpotong saat Yuya secara perlahan bergerak keluar-masuk di dalamnya. Perlahan, Yuya menambah temponya menjadi semakin cepat.
“Ahh… Yu-Yuyan.. lebih.. hah… cep-paaattt… ahhhhh~” desah Niya.
Yuya menyeringai, “Siapa tadi yang baru saja memakiku?” bisik Yuya, Niya mendelik ke arahnya. Namun gadis itu sudah tidak lagi fokus saat Yuya menambah ritme gerakannya.  Yang bisa ia lakukan adalah berteriak dan menjeritkan nama Yuya berkali-kali. Tangannya berusaha meraih apapun yang bisa ia jangkau. Punggung Yuya, tangan Yuya, serta seprai tempat tidur pun luput dari cengkraman tangannya.
Niya menggerakkan tubuhnya seirama dengan Yuya, sehingga saat Yuya memasukkan dirinya dalam-dalam, Niya bisa merasakan bahwa titik paling sensitive pada tubuhnya dapat dicapai oleh Yuya. Dan dengan segera ia meneriakkan nama Yuya yang disambut oleh erangan pemuda itu.
Yuya mengubah posisi mereka dan mengalungkan kaki Niya di lengannya, tanpa melepaskan gadis itu. Dengan gerakan yang semakin cepat, Yuya menggerakkan tubuhnya untuk memuaskan Niya dan juga memuaskan keinginannya sendiri. Niya hanya bisa berteriak keras-keras hingga suaranya menjadi serak karena Yuya mengenai titik sensitifnya lebih sering.
Mereka saling berciuman ditengah kegiatan mereka yang semakin liar, Yuya merasa bahwa sebentar lagi akan mencapai klimaksnya. Dengan nafas tersengal-sengal ia berkata, “Niyan… aku… sebentar lagi…”
Niya mengangguk, mengerti akan apa yang dimaksud oleh Yuya, “Hnnn… aku ju-juga ak- ahhh… yu-YUYAAAHHNNNN!!” saat berkata begitu, Niya mencapai batasnya dan meneriakkan nama Yuya keras-keras. Beberapa detik setelah itu Yuya juga mencapai klimaksnya dan meneriakkan nama Niya.
Tubuh Yuya ambruk menimpa Niya, mereka mengambil nafas dalam-dalam, berusaha mengambil udara banyak-banyak setelah aktivitas yang mereka lakukan tadi. Setelah nafasnya mulai teratur, Yuya mengeluarkan dirinya dari dalam Niya dan berbaring di samping gadis itu. Yuya menoleh ke arah Niya bersamaan dengan Niya yang menoleh ke arah dirinya. Mereka bertatapan untuk beberapa saat.
Niya memberengut kesal. Ia menarik selembar selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut itu, kemudian ia berbalik membelakangi Yuya.
“Heeeii! Kau marah?” tanya Yuya.
“Pikir saja sendiri!”
“Kau marah karena kita melakukaaan…nya?” tanya Yuya lagi. Kali ini tidak ada jawaban. “Maafkan aku karena berlaku kasar terhadapmu,” lanjut Yuya, ia memeluk Niya dari belakang.
Niya berusaha melepaskan diri dari dekapan Yuya, tapi pemuda itu mempererat malah mempererat pelukannya. “Kau kan tahu ini saat pertamaku! Tapi kau malah melakukannya dengan cara seperti itu!” protes Niya, sepertinya ia benar-benar kesal.
“Maaf… aku hanya kesal karena kemarin-kemarin kau menjauhiku. Aku sangat takut kalau kau benar-benar akan pergi meninggalkanku. Aku tidak mau membayangakan jika kau sampai jatuh ke pelukan laki-laki lain. Jadi, aku ingin membalasmu dengan cara ini. Sekaligus menjadikanmu milikku seutuhnya,” terang Yuya panjang lebar. Ia kemudian mencium belakang telinga dan pundak Niya, membuat gadis itu sedikit menggeliat karena geli.
“Daisuki dayo” bisik Yuya lirih membuat Niya membeku. “Itu kan yang ingin kau dengar?”
“Kenapa selama ini kau tida-“
“Haruskah aku bilang? Aku malu. Aku tidak biasa mengatakan hal-hal semacam itu,” Yuya memotong ucapan Niya dengan tidak sabar.
“Lalu mengapa sekarang kau mengatakannya?”
“Karena aku tidak mau kau pergi lagi. Dan lagi, kau benar-benar milikku sekarang. Jadi seharusnya aku tidak perlu malu.” kata Yuya pelan.
“Ne, Yuyan~” Niya perlahan-lahan membalikkan tubuhnya menghadap Yuya.
“Hmm?”
“Ta-tadi kau melakukan itu tanpa memakai pelindung kan? Ba-bagaimana ka-kalau aku…”
Yuya mencium bibir Niya sekilas, “Aku akan bertanggung jawab,” Niya menatap Yuya dengan tatapan yang dalam. Ada kejujuran di sana, setidaknya itu membuat Niya merasa sedikit lega. Kemudian ia mengubur dirinya dalam dekapan Yuya. Mereka terus terhanyut dalam keheningan sampai akhirnya mereka tertidur pulas.
-o0o-
Tok! Tok! Tok! Terdengar suara pintu di ketuk. Yuya membuka matanya, ia segera meraih celananya yang berada di kaki tempat tidurnya dan segera memakainya. Ia kemudian membuka pintu kamarnya dan mendapati ibunya tengah berdiri di ambang pintu.
“Ada apa kaachan?” tanyanya.
Ibunya tengah terpaku menatap sudut yang berada di belakang Yuya. Menoleh, ia menatap arah yang dilihat oleh ibunya itu. Matanya membelalak seketika. Buru-buru ia keluar kamar dan menutup pintu kamarnya. Segera setelah itu, ia mendapat tatapan tajam dari ibunya.
“Errr… anoo kaachan” tatapan ibunya semakin tajam. Yuya semakin gugup karena yang baru saja ibunya lihat adalah Niya yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya tanpa terbalut apapun selain selembar selimut.
“Tak perlu mengelak! Kau pikir aku tidak tahu apa yang kalian berdua lakukan semalam? Suara kalian itu keras sekali, tahu?!”
“Anooo….”
“Ck! Kau ini anak macam apa?! Anak-anak lain melakukan itu saat orang tua mereka sedang tidak ada di rumah. Dan kau? Jelas-jelas kau tahu aku berada di rumah! Untung ayah dan adikmu sedang tidak ada di rumah! Jadinya kalau mereka mendengar kalian? Yang ada mereka bisa trauma!” Yuya hanya bisa menggaruk belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali mendengar ibunya mengomel panjang lebar dalam satu tarikan nafas.
“Dan Yuya!” Yuya menatap wajah ibunya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius. “Semalam kau pasti tidak pakai pengaman kan?” Yuya mengangguk pelan. “BAKA!!” Ibunya tiba-tiba memukul kepalanya dengan sangat keras, membuatnya mengaduh kesakitan. “Bagaimana kalau dia hamil? Itu sama saja kau merusak masa dep-“
“Aku akan bertanggung jawab!” kata Yuya yakin, membuat ibunya melongo tidak percaya.
PLAKKK!! Sekali lagi ibunya memukul kepalanya dengan sangat keras.
“Ittai, kaachaan~” Yuya meringis kesakitan.
“Anak ini benar-benar bodoh! Baka no baka!! Bagaimana dengan masa depanmu sendiri??”
“Akuu… selama aku bersamanya, jadi apapun aku tidak masalah.”
“Ck! Tapi setidaknya kalian perlu berhati-hati! Yasudahlah! Aku mau pergi dulu! Jaga rumah! Dan… ini untukmu!” kata ibu Yuya sambil melempar sesuatu ke arah  anaknya itu, sebelum kemudian pergi turun ke bawah dan meninggalkan rumah.Di sisi lain, Yuya sangat terkejut melihat barang yang di kasih oleh ibunya.

-o0o-
“Yuyan?” Niya membuka matanya tepat setelah Yuya menutup pintu di belakangnya.
“Kau sudah bangun?” tanya Yuya.
“Tadi siapa?”
“Ibuku…”
“Oh… bagaimana demammu?”
“Sudah sembuh, berkat kau.” jawab Yuya.
“Berkat… aku?”
“Ya, kau tahu tidak? Ada sebuah riset yang mengatakan bahwa melakukan ‘itu’ bisa menurunkan demam,” kata Yuya sambil tersenyum menggoda. Kontan wajah Niya memerah di buatnya.
“Ap-apa itu?” Niya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya tentang barang yang sedang dipegang oleh Yuya.
“Ini? Hanya barang dari ibuku.”
“Ohh…” namun, mata Niya membelalak seketika begitu ia bisa melihat dengan jelas barang yang dipegan oleh Yuya. “Ko-kondom?” wajah Niya semakin memerah saat mengatakannya.
Yuya mengangguk sambil berjalan mendekat ke arah Niya. “Ma-mau apa kau?” tanya Niya gugup.
“Mau apa? Sudah jelas kan? Mau menyantap sarapan pagiku, My Chocolate,” kata Yuya yang entah bagaimana sudah berada di atas tubuh Niya dan mengurung tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri. “Ayo kita lanjutkan yang semalam,” bisik Yuya tepat di telinga Niya.

==OWARI==
[A/N] *Pingsan keabisan darah* Huweeeeee ini apaaaaa??? Kacoooooo!!! Demi apa!! Aku ngga mau aplot ini sebenernya, tapi para tetua memaksaku TTATT Rasanya mau nyari tambang pas baca ulang ini ;A;) Parah! Ini lama bgt bikinnya. Untuk bagian awal sih udah selesai dari bulan maret lalu. Tapi pas bagian… *uhukuhukuhukk!!**keselek* itu butuh waktu berbulan-bulan.. TTATT *sehari satu kalimat* Ini aja udah diringanin, ngga sekaco bayanganku *hentai abis ni bocah* =.=) Yahhhh… Mungkin ini fanfic NC yang pertama dan terakhirku, entahlah… Malu mau bilangnya, tapi… dikomen plisss.. COMMENT IS LOVE!!
Tags: fanfiction
Subscribe
  • Post a new comment

    Error

    default userpic

    Your reply will be screened

    Your IP address will be recorded 

    When you submit the form an invisible reCAPTCHA check will be performed.
    You must follow the Privacy Policy and Google Terms of use.
  • 7 comments